Label

Selasa, 16 Agustus 2011

SYAIR BAHR AN-NISA HAMZAH FANSURI MENEMBUS MAKRIFAT

SYAIR BAHR AN-NISA HAMZAH FANSURI MENEMBUS MAKRIFAT

oleh Agung Pambudi pada 19 Juni 2011 jam 22:43
 
 
SYAIR BAHR AN-NISA HAMZAH FANSURI MENEMBUS MAKRIFAT
            Sastra sufi telah memainkan peranan penting dalam sejarah, agama dan budaya di Nusantara sejak akhir abad ke-14 terutama abad ke-16 dan 17. Bentuk sufilah yang paling sesuai dengan mentalitas masyarakat Nusantara sehingga Islam masuk ke semua strata masyarakatnya. Islam diterima secara damai tanpa peperangan agama. Sejalan dengan itu, Nusantara telah melahirkan tokoh-tokoh sufi tasawuf yang agung—namun sampai sekarang sastra sufi Melayu terutama dalam bentuk puisi belum dikaji dalam volume yang cukup besar, bandingkan dengan tasawuf puitik Parsi telah diselidiki secara ilmiah dalam bentuk makalah dan buku yang tidak terhitung jumlahnya. Salah satu tokoh sufi tasawuf Melayu adalah Hamzah Fansuri. Menurut saya, karya Hamzah tidak kalah dengan penyair seperti Ibnu Arabi, Al Hallaj, Al Bistani, Maghribi, Syah Nikmatullah, Abdullah Jalil, Jalaluddin Rumi, Abdulkadir Jailani, dan lain-lain. Karya tasawuf Hamzah menggambarkan jiwa Islam, mengingatkan manusia terhadap rahasia yang hidup dan kekal serta memberikan jalan untuk menghayati keakraban mistik terhadap Tuhan. Sebagai penyair Melayu karya Hamzah mempunyai ciri khas dalam bentuk alegori  beralur, dan berupa hikayat tentang percintaan dan petulangan yang bersifat alegoris—suatu ciri yang tidak dimiliki penyair-penyair dunia di atas.
            Salah satu karya puisi tasawuf Hamzah yang fenomenal adalah Syair Bahr an-Nisa (Laut Perempuan) dikarang masa pemerintahan Sultan Alauddin Sayid al-Mukammal di Aceh (1588-1604). Syair ini mengisahkan perjalanan sufi sampai tahap makrifat yakni pengenalan pada Hikikat Tertinggi. Citra dan lambang merupakan inti pati yang dapat merombak pribadi menuju perpaduan hakiki antara dirinya sendiri dengan Al-Haqq. Laut Perempuan adalah lambang dari Laut Jiwa. Prinsip keperempuanan di dalam diri manusia adalah jiwa yang berbeda dari Ruh (prinsip kelelakian). Jiwa merupakan perpaduan nafs[1] dan qalb[2] sedangkan lubuk kalbu menyembunyikan Ruh dan lubuk Ruh pun menyimpan Hakikat Ilahi di dalam diri manusia (sirr; rahasia). Dalam  konteks ini Ruh sebagai penjelmaan prinsip kelelakian bersatu padu dengan prinsip keperempuanan dalam Hakikat Ilahi sehingga tidak boleh dibicarakan secara terpisah.
            Dalam syair ini, untuk mencapai makrifat harus melalui jalan empat tahap, yakni; (1) syariat (menghayati hukum dan cara hidup Islam), (2) tarikat (menindas dan membunuh nafsu duniawi), (3) hakikat (menemui ”diri” yang sejati dan kekal di dalamnya), (4) makrifat (sepenuhnya tenggelam di dalam pengenalan Hakikat Tertinggi). Selanjutnya syair ini melukiskan tahapan sufi yang sampai kepada makrifat. Tahapan ini merupakan penghapusan ”diri” secara mutlak (bersama dengan pengenalan) dan penyatuannya (wasl) dengan Al-Haqq yang dicapai dalam tiga derajat. Pada bait 1 kisah mikraj Nabi Muhammad dijadikan perbandingan yang bagus. Dimana sebelum Nabi mikraj terlebih dahulu malaikat Mikail dan Jibril membelah tubuhnya, mencuci perut dan hatinya dengan air Zamzam yang suci, sambil membersihkannya dari segala yang bersangkut paut dengan nafsu duniawi. Dalam syair ini Laut Perempuan sebagai air Zamzam. Dengan melayarinya seolah-olah penyair menjalani pembersihan seperti halnya Nabi, apalagi air Laut itu dikatakan; Airnya Zamzam yang amat lezat/memenuhi cita hati dan fuad. Inti dari kisah mikraj ini adalah ketika Nabi berada pada lapis langit ketujuh, maka malaikat Jibril meninggalkannya seorang diri. Di sini Nabi menghampiri Arsy Allah ”pada jarak dua panah atau lebih dekat lagi” (qaba qausin au adna), dan Nabi pun dikaruniai melihat Hakikat Allah.
Tidak kalah menarik objek dalam syair ini adalah angka tujuh, dalam kebudayaan sufi angka tujuh erat hubungannya dengan kepercayaan tentang tujuh lapis petala langit dan tujuh lapis petala bumi. Selain itu, angka tujuh di sini juga menyimbolkan seekor naga bercula tujuh tinggal di dalam Lautan (bait 5) yang merupakan lambang nafsu-nafsu manusiawi; keangkuhan, kehendak buruk, syahwat, iri hati, kejahatan, loba dan kebencian—juga melambangkan lima indera rasa, daya syahwat, dan daya amarah dari jiwa manusia. Selain itu, Hamzah juga membedakan antara laut bergelora dengan laut yang teduh dan tenang. Zat Ilahi ialah laut teduh yang tiada bergerak. Titik awal penciptaan dan kesadaran Ilahi dilambangkan dengan ombak-ombak latif, kecil dan indah. Kata pencipta ”Kun” dilambangkan sebagai taufan ribut yang membangkitkan gelora-gelora yang tinggi, dan menjadikan laut seperti makhluk; Ombak latif elok jalan/pada ombak kahar jangan tertawan.... Sedangkan Mata Air dalam syair ini melambangkan mata air Surga Kautsar dan pohonnya adalah Sirat al-Muntaha. Hal ini dapat merujuk pada Hamzah yang menggelari Nabi Muhammad dengan Yang Empunya Kolam Air Minum dan Makam Termulia. Letak kolam ini lebih rendah dari makam termulia itu. Karena jenjang Nabi Muhammad berada setingkat dengan Arsy, maka mata air yang terletak pada satu tingkat di bawahnya memang melambangkan Kautsar.
Perlambangan tahapan menuju penyatuan dilambangkan dengan istri-istri Nabi Muhammad. Untuk lebih jelasnya mengenai hal ini kita rujuk pendapat (Braginsky,102-104:1993). Nama Maimunah berawal dengan huruf ”mim” merupakan lambang sifat makhluk nafs al-ammarah[3]. Menurut hadis qudsi yang terkenal dikalangan sufi, hanya huruf itu saja yang memisahkan Muhammad dari Allah. Setelah huruf itu meninggalkannya, Muhammad (bentuk namanya yang lain Ahmad) menjadi tunggal, yaitu mencapai penyatuan diri dengan Tuhan (”Aku, Ahmad tanpa mim yaitu Al-Ahad atau Yang Tunggal). Makna lain dari nama ini ialah ”kanan” merujuk pada orang-orang sebelah kanan, ashab al-yamini  (Alquran 56:27) para salihin yang mematuhi syariat. Maimunah mencerminkan tahap syariat yaitu manusia yang dikuasai jiwa hewani memilih jalan kanan. Dalam syair ini penyair berkali-kali menegaskan tentang perlunya menindas sifat-sifat hewani tersebut. Tahap tarikat Salamah berawal dengan huruf ”sin” huruf pertama kata salik yaitu pengembara. Di dalam tradisi sufi ”sin” melambangkan perjalanan dan nafs al-lawammah[4]. Sesuai dengan konteks nama ini mempunyai pengertian kesejahteraan, keselamatan, kebebasan dari aib. Tahap hakikat Khadijah diawali ”kha” huruf pertama Parsi khudi yaitu ”diri”. Selain itu Khadijah juga mempunyai arti ”keguguran”. Pada tahap hakikat segala nafsu sudah dikikis, ”diri” manusia dibersihkan, tetapi keadaan diri itu sendiri masih kekal. Maka dari itu menyebabkan manusia yang mencapai tahap hakikat dan nafs al-mulhimah[5] belum sempurna. Tahap makrifat Aisyah diawali ”ain” melambangkan mata air. Ia juga mempunyai arti  ”hidup”. Adapun makrifat ialah pengenalan yang memberi kehidupan abadi kepada nafs al-mutmainah[6] yang telah mencapai pengenalan dan kembali kepada Tuhan. Tahapan kelima Safiyah, melambangkan jiwa yang sudah disucikan dari segala sifat makhluk, termasuk juga dirinya sendiri dan sudah mencapai penyatuan dengan Tuhan (wasl). 

 

AGUNG PAMBUDI putra ke empat (lanang mbarep) dari pasangan MUHAMMAD ROIKAN ZAENUDIN ASHARI (MBAH MAT)dan SRI ERMANTI ,lahir hari sabtu kliwon 10 juni 1972 di desa bangsal ,pesantren,KEDIRI ,JAWA TIMUR لا إله إلا الله محمد رسولالله istirahatlah wahai diriku dengan menyebut satu asmanya yg paling rahasia yg ia sukai.. kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan di bumi dialah yg mempunyai singasana yg agung yg melahirkan sejuta cinta di hatimu...cintamu kan membawamu kedalam ruangnnya...dan ia kan mencari zat dan sifat yg mampu berpadu..dalam kasanah dua kalimat syahadat. An-Nuur:035 اللَّهُ نُورُ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ مِنْ شَجَرَةٍ مُبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ عَلَى نُورٍ يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus , yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat(nya) , yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.. satriya piningit...ia terpingit direlung kalbu sanubari setiap insan..terkurung didinding pagar aneka warna dari maujudnya...saripati tanah air angin dan api...dialah sang penggembala nafsu insani dari amarah,aluamah .sufiah dan mutmainah...duduk ditengah diantara mahligai sareat .torekot.hakekat.makrifat. figur bocah angon hadir di setiap zaman yang mana di zaman itu keadaan sudah rusak parah di segala aspek..dizaman yang serba rusak inilah ALLAH membimbing cahaya-nya kepada mereka yang di kehendaki...geliat semesta bukan karena disebabkan murkanya SANG MAHA KASIH..namun alam di dalam diri manusiannya itu sendiri yang .merusaknya....maka geliat alam adalah proses menuju kesempurnaan ..menata kembali keseimbangan-nya...sholatul ilmi seorang hamba adalah menata kembali keseimbangan makro dan mikro kosmos jagad AGUNG jagad alit...didalam dirinnya....dan tentu..sudah bisa dibayangkan akibat dari itu...maha cinta menarikan bintang gemintang. JAGAT ALIT BAWONO SETRO Aku ono kandutane ibu umur sakwulan ,anggonku yoso badan wadag,ibu banjur kandeg (ora bulanan,sak banjure ibu gawe pakurbanan,(slametan) bubur suro,sak...teruse angger tanggal 1 syuro kaum ibu podo ngaweruhi sarana pakurbanan bubur suro ujude bubur suro iku digawe soko bubur putih kang di tumppanngi rajangan lombok abang lan rajangan dadar kuning iku mowo teges :kahananku,bakal badan wadagku kang telung warno,abang soko sari2ne geni,kuning soko sari2ne angin,putih soko sari2ne banyu,ing wektu iku bakal badan wadagku katambahan warno ireng soko sari2ne bumi liwat panggonan sing didahar ibu lan rumesep ing ari2 (wadahe pangan). .1.BAYI UMUR 1.WULAN AKSORONE (DJO) disebut NUKAT GHAIB,banyune nurmani,segarane layar putih,gedhonge KUMOLAH arane RIRIS TANGIS. Aku umur 2 wulan badan wadagku ujudte wis pating grendul,ibu banju4 gawe jenang grendul/jenang sapar/kang yektine diarani SAPARAN... 2.BAYI UMUR 2 WULAN AKSORONE (Y0)di sebut KOAT GHAIB, banyune nur buat,segarane r...ante arane KISMO DJATI. Sakwise 3 wulan anggonku yoso badan wadag,badan wadagku wis wuujud cengkoronggan,yoiku . 1sirah 2.gembung 3.tangan. 4.sikil 5..mripat 6.tutuk. 7.kuping 8.irung 9.wadi.yo wis katon.dene papan (kraton) telu ugo wis dadi kang disebut. 1.GIRI LOKA. 2.HENDRO LOKA. 3.JANALOKA. ibu banjjur slametan TELONAN kang artine KRATONKU TELUNG PANGGONAN WIS DADI yoiku kapernah DUWUR,TNGAH.LAN NGISOR.(UTEG,ATI,LAN WADI)... 3.BAYI UMUR 3 WULAN AKSORONE (NYO) disebut RIDJALOLAH GHAIB,banyune NUR ROSO,segarane KUMOLAH , arane HYANG WIDHI. 4.BAYI UMUR 4 WULAN AKSORONE (MO) disebut RIKMO DJATI.banyune NUR KUMORO DJATI,SEGORONE BINDARI SUCI ,ARANE SANG HYANG ADJI. 5.BAYI UMUR 5 WULAN AKSORONE (GO) disebut DJO KUMOLO , banyune NUR KISMOYO, segarane IMOLOYO, arane SANG HYANG BRAHMO wujude SEDULUR 5(LIMO). 6.BAYI UMUR 6 WULAN AKSORONE (BO) disebut ROSO HENDRO MOYO,banyune NUR CAHYO,segarane KUMORO DHANU, arane MANU MANINGKEM MANUNGGALE KAWULO LAN GUSTI WUJUDE ROSO 6 (NEM)PRAKORO. Hm ..hehehe yo wes yuk di lanjutkan lagi....suwe2 dungkap 7 wulan aku yoso omah cagak papat lawang songo wis dadi,ugo komlit ubo rampene arupo. 1.. balung 2.sungsum 3.otot 4.getih ...5.daging 6.kulit 7.wulu.ibu banjur gawe tenger reno pitu.kang sabanjure diarani PITONAN (LINGKEPAN) artine alat-alate omahhku pitung warno wis jangkep/kenno diarani bumi lapis pitu cagak papat lawange songo.... 7.BAYI UMUR 7 WULAN AKSORONE (THO) disebut WARINGIN SUNGSANG banyune TALI ROSO,ROSO TALI,segarane segoro MADU NIRMOLO,arane HERU SETO DJINGGO MOYO DJATI. wujude KAWAH- ARI ARI. 8.BAYI UMUR 8 WULAN AKSORONE (NGO) disebut MAYANG KUMORO SARI, banyune MANIK GITO,segarane CUPU PURBO MISESO arane DJONO LOKO DJATI,wujude KAKANG MBAREP ADINE WURAGIL. Aku umur 9 wulan .ibu gawe bubur procot apem lan gedang kang diarani PROCOTAN LAN MEGENGAN. procotan tegese: lahirku karebpe ben gangsar procot ora ono alangan sawiji opo. megengan tegese: duk naliko aku arep lahir uwal soko ibu,tansah MEGENG NAPAS.sak teruse tangggal 1 poso slametan MEGENGAN,GEDANG APEM. URIP kang ono badan wadag iku dununge ono ing TELENGE ATI..,kang kuwoso murbo amiseso omahku (jagad cilik).sak banjure tanggal 1 syawal ibu kurban sego punar,sing di arani SYAWALAN.tegese:aku wis uwal soko guwo garba dadi utusane GUSTI nindakake wajib'e URIP ono ing alam gumelar. wiwit ono kadutane ibu nganti teko dino kelahiran mau,ugo isih duwe panguwoso jogo lan nylametake badan wadagku,semono ugo aku isih nguwasanii trimurti (GIRI LOKA,HENDRO LOKA,JANALOKA). bareng wis 5 dino utowo sepasar,panguwasaku kang ono GIRI LOKA di endih dene sadulurku papat limo pancer,kang kedadeyan soko cahyo patang prakoro,dewek'e nglungguhi ono ing KUPING,MRIPAT,IRUNG,LAN CANGKEM,anguwasani lawangan pitu(7)kang ono GIRILOKA.YOIKU BOLONGAN KUPING 2,MRIPAT2.IRUNG2.CANGKEM 1.LAN YEN ONO ING TOTO LAHIR DIARANI DINO PITU. dewek'e duwe pangroso 5 prakoro iarani PONCO DRIYO.yoiku 1.pamireng 2.paningal 3.pangggondo 4.pangucap 5.pamikir...ing toto lahir diarani PASARAN LIMO. sak banjur mlebu kumpul dadi siji ono ing kratone ROSO,ono ing HENDROLOKA,mapan ono sakjeroning ATI SANUBARI .BARENG AKU UMUR 35 DINO IBU KURBAN SEGO TUMPENG LAN IWEL2 diarani SELAPANAN.tegese:panguuwasaku kraton telu wis ddi selapi (diendih) karo sedulur papat limo pancer. bareng aku umur 105 dino ibu ugo kurban sego tumpeng lan iwel-iwel diarani TELUNG LAPAN,tegese: panguwasaku ono ing telu2ne atunggal yo iku (CIPTO,ROSO,KARSO) wis di kuwasani karo PONCODRIYO. yo wiwit dino iku aku wis ora duwe panguwoso babar ppisan,wiwit soko kraton 3 tekan badan wadag lapis pitu(7) wis di aku kabeh dening sedulur papat limo pancer,kahananku banjur soyo ambles manjero.mapan ono ing TELENGE ATI SANUBARI,dene omahku di enggoni lan di kuwasani,di atur olan dijogo dewe deneg seduluur papat limo pancer. koyo mangkono kahananku aku tansah urip kablenggu dening sedulurku dewe,.aku tansah urip kablenggu dening sedulurku dewe,papanku rumit banget ,panguasaku mung kari kanggo nguripi badan wadag,tujuanku urip kanggo memayu hyuning bawono ilang babar pisan ..kamongko ing tembe ..aku kudu nanggung jawab ake dewe marang GUSTI KANG MOHO KUWOSO... 9 .BAYI UMUR 9 WULAN AKSORONE (WI-WO) disebut HENDRO LOKO DJATI banyune NUR TIRTO MOYO,segarane TANPO TEPI arane SASTRO JENDRO YUNINGRAT WUJUDE SADAD TANPO SABDU. banjur bayi lahir BYAR PADHANG.DJAGAT GUMELAR WUJUDE LINTANG DJOHAR DUMADI INGSUN..AGUNG PAMBUDI. RASA ASIH MRING GUSTI MERUPAKAN KERINDUAN INSAN KEPADA ASALNYA..MANUNGALING ING SIT ADALAH AMBANG PINTU UNTUK MANUNGGALING KARSA ,JUMBUHING MANUNGGALING KAWULO GUSTI ADALAH MANUNGALING KARSA,KEHENDAK MANUSIA TIDAK LAGI BISA DIBEDAKAN DENGAN KARSANING GUSTI .JUMBUH ADALAH HENANG DIDALAM JUMBUH KAWULO -ABDI ADALAH WENANG... KEHIDUPAN ROHANI ADALAH SOAL PRIBADI,untuk mempertahankan itu tiap manusia dikurniai kehendak yang bebas dari paksaan,karena pertanggungan- jawab kepada GUSTI Tentang laku perbuatan manusia adalah juga soal pribadi antara Umat dan GUSTI ,tidak ada manusia dapat membantu ikut mempertanggung -jawabkan laku perbuatan orang lain. Pangkal dari ngelmu bukanlah kehendak manusia ,tetapi penyerahan diri manusia terhadap ARTI KEHIDUPAN. ngelmu bukan doktrin,ngelmu bukan merupakan suatu bentuk kebaktian umum,tumungkuling jiwa kepada -GUSTI -Yang tumbuh dari ngelmu dinamakan -KAWULO-GUSTI-. -KAWULO-GUSTI-Adalah soal pribadi manusia terhadap GUSTI.dari ngelmu tidak dapat suatu bentuk kebaktian yang sama berdasarkan doktrin,Memang tidak ada NGELMU yang sama dan tidak ada KAWULO -GUSTI-yang bisa di organisasi. Keheningan yang sejati adalah terang rohani dalam SEMU,Dengan NING Maka kita bisa mengerti sesuatu tanpa Memikir dan Tanpa merasa. Walaupun demikian Keheningan dalam semu bukannya merupakan kemampuan yang MAWANA dengan sekali sempurna .. Segala sesuatu dalam SEMU..adalah pengalaman yang oleh Aku-Suto belum pernah dialami. Kalau kita memang anggugu ing semu agar kita bisa MANDIRENG PRIBADI.. Tidak tergantung kepada apapun dan tidak tergantung kepada siapapun ,itulah dewasa rohani. karena itu semu adalah katon,dan semu adalah maton,siapa anggugu ing semu mbayu mili manuto kang nyoto lan ono,menerima adanya seperti adanya,lepas dari aku dan kamu.lepas dari dulu dan besok adalah anggugu ing semu,itulah kesederhanaan yang tidak bisa di tuju,dan kesunyian yang tidak bisa di buat, Menuju sesuatu itu tentu berpangkal dari aku,ingsun tidak memiliki kebutuhan yang berpangkal dari nafsu hangganya.ingsun hanya anggugu ing semu menghidupi KARSA.Disini dan sekarang lepas dari waktu dan ruang adalah KEJATEN. Disini lukar dari dunung dan sekarang lukar dari waktu adalah KARSA yang MAWANA.Rohaniwan yang sudah bisa mangana dalam SEMU,maka anggugu adalah satu satunya pandangan rohaninya, kita tidak bisa menjadi pura bapak-ibu yang berkenan, kalau kita tidak anggugu kepada ssemua kehendak bapak dan ibu,anggugu adalah sikap anak terhadap orang tuannya..Demikian pulalah para rohaniwan yang telah mampu lukar dari BUSANA JALMI. Dengan INGSUN dalam NING maka mereka menjadi kanak kanak yang bisa percaya YA dan menggantungkan segala sesuatu kepada KANG MURBENG DUMADI.akibat lukar dari busana jalmi jadi bukannya suatu status yang hampa pengertian.tetapi suatu pertumbuhan diri dalam kemurnian dan kesederhanaan. anggugu minta disadari dan ditrima oleh Para abdi SEMU ,karena anggugu bersifa khas untuk masing masing abdi,anggugu,sebagai pandangan rohani adalah khas sesuai dengan watak sifatserta ciri pembawaan setiap abdi semu Rohaniwan SEMU tidak lagi egoistis,karena kehampaan dari nafsu keakuan sudah bisa dilampaui .bebas dari kebutuhan yang berpangkal dari aku -suto adalah syarat mutlak untuk bisa anggugu ing SEMU.Percaya YA adalah percaya dengan SUMARAH ING KAREP,dan SUMELEH ING PAMIKIR. Percaya YA adalah sederhana sebagai pemikiran ,tetapi kesederhanaan dalam percaya YA itu bukan merupakan kesederhanaan yang di tuju,percaya YA adlah satu satunya bentuk kepercayaan yang benar dalam rangka SANGKAN PARANING DUMADI. sek nyruput wedhang lan nyumet jisam soe..hm ngene IKI aku kok kelingan slirane terus yo...hm yo wes iki aku lagi mulang bibit dumadi dewe..kang clumorot kadyo syang hyang NURCAHYO..ing ......hm..RIRIS TANGIS ARANMU KUMOLAH GEDONGMU,LAYAR PUTIH SEGARAMU.NURMANI BANYUMU.KADUNUNGAN AKSORO DJO KANG SINEBUT NUKAT GHAIB.WULAN IKI MANCIK GANEP SEPISAN WULAN YUSWAMU. pertumbuhan dari rasa percya YA dalam semu akan menemukan klimaksnya.kalau kita dalam rasa percaya YA sudah bisa bebas dari rasa sayang ,bebas dari rasa sayang akan segala sesuatu yangada diluar dan di dalam diri kita ,pertumbuhan dari rasa percaya menjadi rasa percaya YA ini kita hayati pertama tama dalam penyesuaian diri,INGSUN yang karna kurnia baru mampu melewati kekosongan AKU-nya harus menyesuaikan diri dengan pandangan dan pengalaman baru dalam semu,Kasunyatan dalam semu hendaknya bisa kita sadari ,agar kita mempunyai pengertian yang wajar tentang anggugu . Bebandan rasa sudah bisa dilalui WANGKIT-nya,didalam NING maka kita mulai mampu menghayati RASA PERCAYA YA.percaya YA jadi bisa kita anggap sebagai dasar untuk anggugu ing SEMU.Tanpa percaya YA tidak bisa ada anggugu ,karena emoh anggugu berarti ada sisa rasa pembinaan rasa keakuan.anggugu ing semu tidak bisa di emohi,didalam anggugu tidak terdapat rasa WAS,Kalau dalam anggugu masih timbul rasa canggung ,maka itu merupakan pembawaan kita sendiri ,raga kita minta waktu untuk bisa menyesuaikan diri . kita harus rela lukar dari busana JALMI,agar mampu ngrasuk busana JATI mulai masa ini hendaknya kita membuka hati untuk bisa menyadari arti kata CINTA atau SAYANG,Sebab didalam rasa cinta atau sayang akan banyak kita temukan pangkal bebandan ,ing WANGKIT RASA DAN WANGKIT PAMIKIR tumbuhlah NING,Klau kitakarena kurnia bisa lukar dari BUSANA JALMI dan mampu ngrasuk BUSANA JATI maka kita akan menghayati SEMU diluar kedirian kita.kita menghidupi suatu kahanan yang berbeda,dan demikian pula kitamengalamai perubahan dalam pandangan ROHANI .Di dalam NING kita bisa menerima anggugu, dan anggugu sebagai pandangan rohani dan sikap hidup hendaknya kita mengerti dan kita GUGU ,Agar kita bisa lukar dari bebandan rasa sayang,Pada masa ini rasa sayang juga menempati peranan penting dalam anggugu yang minta kesadaran dan kerelaan hati untuk bisa menerima pengertian tentang kebebasannya,lukar dari rasa asih atau sayang tdak bisa terjadi dengan sekaligus ,walaupun dengan dan karena anggugu, di dalam SEMU manusia sebagai DUMADI Masih belum lukar dari kelemahannya.ROHANIWAN ngelmu tidak bisa anggege mangsa,segala sesuatu memang minta banyak pengertian dan kesediaan hati .. karena itu hendaknya kita waspada agar; jangan sampai anggege mangsa,tetapi jangan sampai tak acuh,jangan sampai terlalu berani,tetapi jangan sampai bersifat takut,jangan sampai mengatakan mustahil,tetapi jangan sampai memandang mudah,jangan sampai merasa bisa,tetapi jangan sampai merasa tidak mampu.menerima pengertian tentang sesuatu tanpa memikir dan merasa itu adalah khayal bagi kawerh dan ngelmu yang bukanmerupakan NGELMU KASAMPURNAN,Tetapai didalam daya ghaib GUSTI Segala sesuatu bisa terjadi. memang kemapuan kaweruhdan kemampuan ngelmu itu tidak mampu melampaui WANGKIT-NYA.Manusia itu tidak bisa mengerti sesuatu dengan tidak memakai pemikiran atau gagasannya,pengertian tentang semu baru ada dalam diri manusia kalu kita bisa lukar dari BUSAN JALMI yaitu kemampuan untuk MERASA,Hanya dalam kehheningan yangg sejati kita bisa menyadari bahwa semu itu KATON DAN MATON,Hanya dalam NING Kita bisa anggugu ing semu,lukar dari bebandan bebrayan hendaknya kita renungkan dan kita dalami,sebab di dalam benar tidaknya kita anggugu ing semu pada masa ini letak kemungkinan kita bisa lukar sebagai warga bebrayan dan menjadi warga KEHIDUPAN dalam tata KAHANAN,dan semua itu hanya bisa kita capai dengan ANGGU ING SEMU. JUMBUH DAN RACUT adalah satunggal,karena JUMBUH DAN RACUT adalah MANUNGGAL.Tidak ada RACUT tanpa JUMBUH dan tidak ada JUMBUH tanpa RACUT..Inilah KAWULO GUSTI dan Inilah pula SANGKAN PARANING DUMADI.. MANUNGSO-KAWULO karena kurnia mampu manunggal dengan GUSTINYA..inilah NGELMU dan SEMU.AGAMA ABDI AGAMA KAWULO. SUWUNG HAMENGKU ONO..WUJUD KANG SEJATI SUWUNG ANANE..ANANE WUJUD KANG SEJATI YO AMUNG SUWUNG..MILO KASEBAT SUWUNG HAMENGKU ONO...UTOWO AWUJUD HAMUNG KASUWUNGAN KANG ISO MADAHI JAGAD SAK ISINE. 
Olah kepribadian agungpambudi nalikone didukani maring kinasihingwang yo pamungkasing katresnaningsun..05/06/2011 in batavia gubuk pagupon omahe doro.mbrebes mili ing sakjeroning qolbu.



Tes putih soko bopo tes abang soko biyung wujud gedong cagak papat lawange songo gumantung tanpo centelan isen isene HYANG SUKMO SEJATI..lungguhe ono batinku kang suci ,kanggonan wekasan URIP SEJATI,kang aran DAT lan SIFAT weruh sakdurunge winarah tetep madhep manthep langgeng sak kodrat ingsung dadio sak ciptaningsun.
Hyang sukmo sejati seksenono ingsun kirim gondo arum kang dak kirim sedulurku kang lahir bareng sedino kang dak sebut kakang kawah -adi ari ari kakang mbarep adine wuragil...kang adoh tanpo wangenan cedak tanpo senggolan yo iku titipane wong tuwaku lanang lan wadon ,kakang kawah- adi ari ari moro tampanono kiriman gondo arum iki,dak suwun jumbuh dadi siji karo syang hyang sukmo sejati.